Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan

Gus Lutfi Kupas Makna “Tandure Wus Sumilir”: Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremonial

Iki Supratman
Selasa, 22 September 2026
Last Updated 2026-09-22T11:11:29Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
BUTUH BANTUAN HUKUM ?

 


Jakarta  — 1detik.asia

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Hikmah, Cililitan, Jakarta, Senin (21/9/2026), berlangsung khidmat dan penuh keakraban. Peringatan tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi umat Islam untuk kembali menghidupkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.


Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum UMKM Nahdliyin, Gus Lutfi Hakim Wahid, saat memberikan tausiyah di hadapan jamaah.


Dalam penyampaiannya, Gus Lutfi menegaskan bahwa Maulid Nabi memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar agenda keagamaan yang berlangsung setiap tahun. Menurutnya, peringatan Maulid seharusnya mampu menjadi momentum untuk memperkuat keimanan sekaligus mendorong perubahan perilaku umat.


“Sebagaimana kita ketahui bersama, bulan Maulid merupakan bulan yang sangat istimewa, karena pada bulan inilah Nabi Muhammad SAW dilahirkan,” tutur Gus Lutfi.


Ia menjelaskan, kelahiran Rasulullah SAW membawa pesan besar bagi kehidupan umat manusia. Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi pembawa risalah Islam, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun kehidupan yang berlandaskan akhlak, kejujuran, amanah, kesabaran dan kasih sayang.


Karena itu, menurut Gus Lutfi, kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya tidak berhenti pada kegiatan pembacaan Maulid, lantunan shalawat maupun berbagai bentuk peringatan lainnya.


Lebih dari itu, kecintaan tersebut harus tercermin melalui perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.


Dalam tausiyahnya, Gus Lutfi menggunakan ungkapan Jawa “tandure wus sumilir” sebagai sebuah perumpamaan untuk menggambarkan semangat kehidupan yang kembali tumbuh dan bersemi.


Ungkapan tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana momentum Maulid dapat menjadi penyemangat bagi umat untuk kembali memperbaiki diri dan menghidupkan nilai-nilai keislaman.


“Di antara keistimewaan perayaan atau pembacaan Maulid di mana pun berada, Maulid bisa menjadi tandure wus sumilir, menjadi penyemangat bagi kita semua,” ungkapnya.


Menurutnya, peringatan Maulid seharusnya memberikan dampak setelah jamaah meninggalkan masjid. Nilai yang diperoleh dari tausiyah, shalawat dan pembacaan Maulid harus diterjemahkan menjadi perilaku yang nyata di tengah keluarga dan masyarakat.


Dengan demikian, Maulid tidak berhenti sebagai sebuah seremoni, tetapi menjadi titik awal untuk menghadirkan perubahan positif dalam kehidupan umat.


Gus Lutfi kemudian mengajak jamaah untuk melihat kembali akhlak Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.


Menurutnya, nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama merupakan bagian penting dari keteladanan Rasulullah yang relevan untuk terus diterapkan.


“Akhlak Rasulullah SAW menjadi contoh nyata bagaimana kita bersikap jujur, amanah, dan sabar dalam keseharian,” ujarnya.


Ia menilai, masyarakat saat ini membutuhkan keteladanan yang dapat dirasakan dalam kehidupan nyata. Karena itu, semangat Maulid hendaknya mendorong setiap individu untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki sikap masing-masing.


Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, kata Gus Lutfi, bukan hanya diukur dari seberapa meriah sebuah peringatan Maulid digelar, tetapi juga sejauh mana akhlak Rasulullah mampu tercermin dalam kehidupan orang-orang yang memperingatinya.


“Maulid bukan hanya untuk mengenang, tetapi bagaimana kita mampu menghadirkan kembali keteladanan Rasulullah dalam kehidupan,” menjadi pesan penting yang disampaikan dalam tausiyah tersebut.


Lebih lanjut, Gus Lutfi mengajak jamaah menjadikan bulan Maulid sebagai momentum untuk membangkitkan kembali semangat umat dalam menjalani kehidupan.


Menurutnya, kelahiran Rasulullah SAW dapat dimaknai sebagai hadirnya harapan, kesejukan dan tuntunan bagi manusia. Nilai tersebut perlu terus dirawat agar tidak berhenti pada ruang masjid, tetapi juga tumbuh dalam kehidupan sosial masyarakat.


Ia berharap momentum Maulid dapat memperkuat hubungan umat dengan Allah SWT sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sesama.


“Walhasil, kelahiran beliau diibaratkan sebagai musim semi yang membawa kesejukan iman. Semoga kita semua pantas mendapatkan syafaat Rasulullah SAW dan semoga dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT,” pungkasnya.


Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Hikmah tersebut pun menjadi pengingat bahwa mengenang Rasulullah bukan sekadar melihat kembali sejarah kelahiran beliau.


Lebih jauh, Maulid menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali akhlak, memperkuat iman, mempererat kepedulian sosial dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan.


Semangat “tandure wus sumilir” yang disampaikan Gus Lutfi pada akhirnya menjadi pesan agar nilai-nilai keteladanan Rasulullah tidak layu setelah peringatan Maulid berakhir, melainkan terus tumbuh dan bersemi dalam kehidupan umat.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan