Semarang - Siapa yang tidak tertohok membaca kalimat itu? Di tengah hujan deras Sabtu malam, 24 Mei 2026, median jalan Banyumanik tiba-tiba bicara. Bukan spanduk kampanye. Bukan baliho janji manis. Hanya lingkaran putih dengan tulisan tangan kasar: "Jangan KORUPSI YA... BEBH".
Singkat. Pedas. Tepat sasaran.
Gerbang Kota, Gerbang Sindiran
Ini bukan vandalisme. Ini tamparan. Jalur selatan Semarang, pintu masuk dari Solo-Jogja, kini punya "pos penjagaan" baru. Bukan dijaga polisi atau Satpol PP, tapi dijaga nurani warga. Seolah setiap pejabat yang melintas dari arah Setiabudi wajib menunduk dulu membaca peringatan itu: masuk Semarang, tinggalkan mental maling.
Kata "BEBH" di akhir bukan sekadar pemanis. Itu gaya ngomong orang Semarang. Akrab, tapi nusuk. Seperti bilang: “Kami tahu kelakuan kalian. Jangan macam-macam di kota ini.”
Parlemen Jalanan: Suara yang Tak Punya Kursi, Tapi Punya Nyali
Sampai detik ini, tak ada yang tahu siapa "Parlemen Jalanan". Tak ada ketua. Tak ada kantor. Tak ada anggaran reses. Yang ada hanya keberanian menempelkan kebenaran di aspal basah.
Ironis. Di negeri yang punya gedung DPRD megah, justru jalanan yang lebih dulu bersidang. Di kota yang punya Inspektorat, BPK, dan APIP, justru median jalan yang berani teriak: Jangan korupsi.
Pertanyaannya: kenapa rakyat harus turun ke jalan untuk mengingatkan hal yang paling dasar? Bukankah sumpah jabatan sudah cukup?
Aparat Bungkam, Pesan Malah Menggema
24 jam berlalu. Pemkot Semarang diam. Satpol PP tak bersuara. Polisi belum berkomentar. Entah mau dicopot karena dianggap "mengotori kota", atau dibiarkan karena takut dituding anti-antikorupsi.
Padahal pesannya jelas. Ini bukan makar. Ini alarm moral. Kalau tulisan "Jangan Korupsi" saja membuat gerah, berarti ada yang salah dengan cara kita berkuasa.
Jangan Tunggu Viral, Baru Bertindak
Banyumanik malam itu memberi pelajaran: ketika ruang dialog resmi buntu, rakyat akan mencari panggungnya sendiri. Hari ini median jalan. Besok bisa tembok balai kota. Lusanya mungkin di depan kantor kalian.
"Parlemen Jalanan" tidak butuh dikenal. Mereka hanya ingin pejabat ingat. Jabatan itu amanah, bukan lahan bancakan.
Jadi sebelum sibuk mencari siapa pelakunya, lebih baik bercermin: kenapa peringatan itu harus ada? Dan kenapa kata "BEBH" terasa lebih jujur daripada pidato antikorupsi di seremonial?
Semarang sudah diingatkan. Lewat jalan yang kalian lewati setiap hari. (Red Jateng)
.png)

