(foto :swjn)
Pagi-pagi sekali, saat matahari belum menampakkan sinarnya, nenek sudah membangunkanku dengan suara lembut penuh kasih. Udara begitu dingin, kabut tebal menyelimuti kampung kecil kami, dan setiap hembusan napas tampak seperti asap putih yang melayang di udara. Dengan mata yang masih berat menahan kantuk, aku mengambil handuk dan sabun, lalu berjalan menuju Sungai Lukulo yang letaknya tak jauh dari sekolah dasar kami.
Di musim kemarau, air sungai terlihat jernih meski bebatuannya dipenuhi lumut hijau yang licin. Agar bisa mandi dengan bersih, kami membuat lubang kecil di pasir pinggir sungai seperti sumur alami. Dari situlah keluar air bening yang sangat dingin hingga menusuk kulit. Angin pagi berhembus pelan di tengah kabut, membuat tubuh kecil kami menggigil sambil sesekali tertawa bersama teman-teman yang sudah datang lebih dulu.
Selesai mandi, kami pulang berjalan kaki melewati jalan kecil yang sedikit menanjak. Saat itu belum banyak kendaraan bermotor seperti sekarang. Yang terlihat hanyalah beberapa sepeda tua, itupun hanya dimiliki segelintir orang. Namun justru di situlah letak keindahan hidup kami yang sederhana.
Sesampainya di rumah, aku mengenakan seragam merah putih yang warnanya mulai pudar dimakan waktu. Kaos kaki bolong dan sepatu yang dipakai bertahun-tahun tetap terasa istimewa, karena di sanalah tersimpan perjuangan dan kenangan masa kecil. Di dapur, nenek sudah menyiapkan sarapan sederhana: nasi tiwul campur beras dengan lauk ampas tahu bulat mirip bakso. Hangat, sederhana, tetapi terasa begitu nikmat disantap di pagi yang dingin bersama kasih sayang seorang nenek yang tak ternilai harganya.
Setelah sarapan, aku menyiapkan buku pelajaran, pensil, pulpen, penghapus, penggaris, dan tentu saja buku gambar yang selalu kubawa karena menggambar adalah hobiku sejak kecil. Dengan langkah riang aku berangkat sekolah melewati jalan setapak, menuruni perkampungan yang masih sunyi dan dipenuhi embun pagi.
Sesampainya di sekolah, pintu kelas sering kali masih terkunci. Namun di sudut halaman sudah ada penjual jajanan favorit kami: jipang dan sempe warna-warni yang sederhana, tetapi terasa sangat lezat pada masa itu. Sedikit demi sedikit guru-guru datang, dan kami menyambut mereka dengan penuh hormat.
“Selamat pagi, Ibu Guru...
Selamat pagi, Bapak Guru...”
Suara anak-anak kecil memenuhi halaman sekolah dengan keceriaan yang tulus. Ketika lonceng berbunyi, kami pun berlari menuju kelas dengan wajah cerah dan hati penuh semangat.
Senin pagi di era 89/90-an selalu memiliki cerita tersendiri. Bunyi bel sekolah terdengar nyaring, menjadi tanda dimulainya kegiatan belajar. Anak-anak SD berbaris rapi di halaman sekolah memakai topi merah putih untuk mengikuti upacara bendera.
Udara pagi masih terasa sejuk, suara aba-aba pemimpin upacara terdengar tegas, sementara lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan penuh semangat dan kebanggaan.
Setelah upacara selesai, murid-murid masuk ke kelas sederhana dengan papan tulis hitam yang dipenuhi coretan kapur. Pelajaran dimulai dari PMP, Matematika, hingga Bahasa Indonesia. Suara guru terdengar tegas, kadang sedikit galak, tetapi sebenarnya penuh perhatian kepada murid-muridnya.
Jika ada yang bercanda saat pelajaran berlangsung, kapur kecil kadang melayang ke arah bangku belakang sebagai tanda peringatan.
Murid yang bandel sering mendapat hukuman berdiri di depan kelas sambil mengangkat satu kaki. Saat itu terasa menegangkan, tetapi kini semua berubah menjadi kenangan lucu yang selalu dikenang bersama teman-teman sekolah.
Walau suasana sekolah masih sangat sederhana, tanpa gadget dan teknologi modern, masa-masa itu justru terasa hangat, akrab, dan penuh kebersamaan. Tidak ada kemewahan, tetapi hati kami penuh kebahagiaan. Kami belajar tentang persahabatan, rasa hormat, kerja keras, dan arti menikmati hidup apa adanya.
Kini usia telah memasuki kepala lima. Rambut mulai memutih dan waktu telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan. Namun setiap kali kenangan itu hadir kembali, hati ini selalu tersenyum hangat. Masa kecil di era 89/90-an mungkin penuh keterbatasan, tetapi justru di sanalah tersimpan kebahagiaan paling tulus—kenangan indah yang tak akan pernah tergantikan oleh zaman apa pun.
Mengenang Masa SD Tahun 1989-1990
Masa-masa SD tahun 1989–1990 menyimpan banyak kenangan yang sulit dilupakan. Saat yang paling ditunggu-tunggu setiap hari tentu saja waktu istirahat. Di sudut sekolah, berjejer berbagai jajanan favorit anak-anak, seperti jipang, sempe warna-warni, minuman sitrun, bakwan, lepet, lontong, telur ayam, dan aneka makanan lainnya yang menggugah selera.
Setelah membeli jajanan, halaman sekolah menjadi ramai oleh berbagai permainan. Anak laki-laki biasanya bermain sepak bola, betik, atau panahan sederhana menggunakan lidi dan karet. Sementara itu, ada juga yang bermain damdaman dengan memanfaatkan batu kerikil putih dan hitam. Kapur tulis yang diambil dari kelas sering digunakan untuk menggambar garis atau kotak permainan di lantai.
Ketika lonceng berbunyi, seluruh murid bergegas memasuki kelas dan duduk di bangku masing-masing. Guru mulai mengajar, sementara para murid menyimak pelajaran dengan penuh perhatian. Namun, tak jarang ada murid yang mengantuk saat pelajaran berlangsung. Teman sebangkunya biasanya berusaha membangunkan secara diam-diam. Guru yang mengetahui hal itu sering kali langsung memberikan pertanyaan kepada murid yang mengantuk tersebut.
Saat ditanya, murid itu hanya bisa menggaruk-garuk kepala karena tidak mengetahui jawaban. Suasana kelas pun pecah oleh tawa teman-temannya. Meski demikian, guru tetap melanjutkan pelajaran dan menuliskan tugas di papan tulis untuk dikerjakan di rumah.
Menjelang jam pulang, perjuangan murid belum selesai. Tidak semudah itu mereka bisa langsung meninggalkan kelas. Guru biasanya memberikan pertanyaan kepada para murid. Siapa yang bisa menjawab dengan benar, diperbolehkan pulang lebih dulu. Sedangkan yang belum bisa menjawab harus tetap duduk di bangkunya hingga mendapat pertanyaan yang lebih mudah dan mampu memberikan jawaban yang tepat.
Begitulah suasana sekolah dasar pada masa itu. Sederhana, penuh canda tawa, dan sarat kebersamaan. Meski tanpa gawai dan teknologi modern seperti sekarang, kenangan masa SD tahun 1989–1990 tetap menjadi cerita indah yang selalu terkenang sepanjang masa.
Bertemu Di Group Watshap Meski Tidak Berjumpa.
Dulu hanya duduk sebangku, bermain di lapangan sekolah, saling meminjam penggaris, hingga tertawa bersama saat jam istirahat. Kini, setelah puluhan tahun berlalu dan usia sudah memasuki 50-an, grup WhatsApp teman SD era 89-90-an ternyata memiliki banyak manfaat yang tidak ternilai bila itu di jalankan dengan baik. Grup ini bukan sekadar tempat berbagi foto lama atau ucapan selamat pagi. Di dalamnya ada rasa persaudaraan yang kembali hidup. Teman-teman yang dulu pernah tumbuh bersama kini menjadi ruang untuk saling menguatkan, bertukar kabar, hingga saling membantu saat ada yang mengalami kesulitan.
Di usia yang tidak lagi muda, komunikasi sederhana di grup bisa menjadi pengobat lelah dan penghilang rasa sepi.Candaan masa sekolah yang kembali muncul mampu menghadirkan tawa tulus dan mengurangi beban pikiran. Bahkan, banyak yang merasa lebih bahagia karena bisa kembali mengenang masa kecil yang penuh kesederhanaan.
Selain menjaga silaturahmi, grup teman SD juga sering menjadi tempat berbagi informasi penting, peluang usaha, kegiatan reuni, hingga dukungan saat ada teman yang sakit atau terkena musibah.
Dari sana terlihat bahwa persahabatan lama tidak pernah benar-benar hilang, hanya sempat terpisah oleh waktu dan kesibukan hidup.
Usia boleh bertambah, rambut boleh mulai memutih, namun kenangan masa sekolah tetap menjadi bagian indah yang menyatukan hati.
Grup WhatsApp teman SD tahun 90-an menjadi bukti bahwa persahabatan sejati bisa tetap hangat meski telah melewati puluhan tahun perjalanan hidup.
(Jurnalis;swjn)

.png)
