(Foto/Editor:Sawijan)
Sebuah lukisan surealisme bertema bencana ekologis menampilkan gambaran dunia yang dilanda cuaca buruk, di mana hujan turun bercampur racun dan menciptakan penderitaan berkepanjangan bagi umat manusia. Karya ini tidak sekadar menyajikan pemandangan kehancuran, tetapi menjadi simbol peringatan akan rapuhnya kehidupan manusia akibat kerusakan lingkungan.
Dalam lukisan tersebut, hujan beracun dimaknai sebagai konsekuensi dari keserakahan dan eksploitasi alam yang berlebihan. Racun yang jatuh dari langit melambangkan polusi, limbah industri, dan kesalahan manusia sendiri yang akhirnya kembali menyerang kehidupan mereka. Dampaknya digambarkan melalui tubuh-tubuh manusia yang sakit, lemah, dan kehilangan harapan.
Kesulitan memperoleh makanan menjadi elemen penting dalam lukisan ini. Tanah yang tercemar dan sumber pangan yang rusak melukiskan krisis pangan global, di mana kelaparan bukan lagi sekadar masalah ekonomi, tetapi akibat langsung dari kehancuran ekosistem. Makanan yang sulit didapat mencerminkan ketergantungan manusia pada alam yang selama ini diabaikan.
Secara keseluruhan, lukisan surealisme ini menyampaikan pesan kuat tentang masa depan yang suram jika manusia terus mengabaikan keseimbangan alam. Melalui visual yang simbolik dan emosional, seniman mengajak penikmat seni untuk merenung: bahwa bencana bukan hanya datang dari alam, melainkan lahir dari tindakan manusia itu sendiri.
“Narasi ini hanyalah karangan biasa dan tidak ada kaitannya dengan kejadian nyata, tokoh, tempat, maupun situasi apa pun di dunia nyata. Segala kesamaan yang terjadi bersifat kebetulan semata.”

.png)
