Di tengah samudra luas yang bergelora, berdirilah sebuah kapal besar dengan badan baja kokoh dan teknologi canggih. Kapal itu melaju angkuh, seolah lautan dapat ditaklukkan sepenuhnya. Para penumpang merasa aman, percaya bahwa ukuran dan kemegahan adalah jaminan keselamatan.
Namun takdir berkata lain. Di saat cuaca berubah drastis, ombak meninggi dan angin mengamuk, kapal besar itu justru tak berdaya. Benturan keras dan tekanan gelombang membuat badan kapal terbelah. Kepanikan pun tak terhindarkan. Keangkuhan yang semula dibanggakan runtuh seketika, menyisakan ketakutan dan penyesalan.
Di tengah kekacauan itu, muncul sesuatu yang selama ini dipandang remeh: perahu-perahu kecil. Sederhana, tanpa kemewahan, namun lincah dan mampu menyesuaikan diri dengan ganasnya lautan. Perahu kecil itulah yang akhirnya menjadi penyelamat, satu per satu mengevakuasi penumpang dari kapal besar yang terbelah.
Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan. Bahwa besar dan megah tidak selalu menjamin keselamatan, dan kecil serta sederhana bukan berarti lemah. Kesombongan sering kali menutup mata dari keterbatasan diri, sementara kerendahan hati justru membuka jalan keselamatan.
Sebagaimana hidup, manusia kerap merasa kuat karena jabatan, harta, atau kekuasaan. Padahal, dalam kondisi tertentu, justru ketulusan, kebersamaan, dan kesederhanaanlah yang menjadi penolong. Seperti perahu kecil di tengah badai, ia hadir bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk menyelamatkan.
Kisah ini mengingatkan kita agar tidak meremehkan apa pun dan siapa pun. Karena boleh jadi, yang terlihat kecil di mata manusia, justru besar manfaatnya di saat yang paling menentukan.
.png)

