Jakarta- 1detik.asia ,"Faisal Asegraf dan beberapa pihak lainnya curiga ada dalang di balik tuduhan ijazah palsu yang ditujukan kepada eks Presiden ke-7 Jokowi Dodo. Mereka percaya bahwa ada agenda besar politik di balik isu ini.
Jokowi sendiri menyatakan bahwa ada orang besar yang memback up tuduhan ini, namun tidak menyebutkan nama spesifik. Sementara itu, Silfester Matutina, Ketua Organisasi Relawan Solidaritas Indonesia, menyebut bahwa Roy Suryo dan beberapa tokoh lainnya hanyalah alat dari kepentingan politik yang lebih besar.
Roy Suryo sendiri membantah tuduhan ini dan menyebut bahwa tidak ada dalang di baliknya. Ia bahkan menyindir Jokowi sebagai "raja jawa palsu" dan menyatakan bahwa dirinya hanya ingin membuktikan kebenaran .
Demikian juga Dokter Tifa dalam bantahan di akun X miliknya Tifa mengatakan.
PERNYATAAN PERS dr. TIFA
“Tudingan Faisal Assegaf sungguh keji dan saya pertimbangkan untuk melaporkan pencemaran nama baik”
Bismillahirrahmanirrahiim.
Atas nama Allah saya bersumpah
1.
Tiga hari lalu saya mencermati adanya pernyataan dari Faisal Assegaf bahwa “rekening kami, Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan DOKTER TIFA harus diperiksa karena menerima sejumlah uang”; dan menyebut bahwa perjuangan saya terkait kajian ilmiah perilaku kebohongan mantan Presiden Jokowi dibiayai atau diarahkan oleh pihak tertentu.
Dengan tenang dan penuh tanggung jawab moral saya nyatakan: klaim tersebut tidak benar!
Tidak ada satu rupiah pun dana dari siapa pun yang saya terima untuk penelitian, sikap, maupun langkah saya. Jika saya melangkah, itu karena saya memegang prinsip bahwa akademisi memiliki kewajiban moral untuk mencari dan menyampaikan kebenaran, bukan menjalankan agenda siapa pun.
Kepada Allah saya berserah diri, menyerahkan langkah, risiko, dan konsekuensi atas apa yang saya jalankan.
2.
Penelitian yang saya lakukan berangkat dari disiplin ilmu yang saya tekuni: Epidemiologi, Ilmu Perilaku dan Neurosains, yang menjadi Ilmu pengetahuan baru bernama Neuropolitika.
Kajian saya bukan berbasis kepentingan politik, kelompok, apalagi dengan pembiayaan eksternal, melainkan berbasis metode ilmiah, literatur, analisis data, dan komitmen akademik.
Bagi saya, kebenaran intelektual tidak dapat dibeli, dinegosiasikan, atau dititipkan. Kebenaran harus ditemukan dengan kerja, diuji dengan data, dan dipertanggungjawabkan dengan integritas, bukan didikte oleh kekuasaan atau narasi.
3.
Saya menghormati hak siapa pun untuk memiliki pandangan atau interpretasi, tetapi saya berharap pernyataan publik tentang saya atau perjuangan yang saya jalankan, dilakukan dengan tanggung jawab etis, faktual, dan tidak mendistorsi realitas.
Sejak awal saya memilih jalan ini bukan untuk mencari posisi, sensasi, atau dukungan materi, tetapi untuk mengingatkan bahwa bangsa ini hanya akan tumbuh kuat jika kejujuran, bukti, dan akal sehat ditempatkan di atas kepentingan pribadi atau kekuasaan. Dengan keyakinan itu saya berjalan, dan insyaAllah akan tetap saya jalani dengan tenang, terhormat, dan konsisten.
Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'man nashiir.
Laa haula wala quwwata ila billah.
Salam Takzim
dr.Tifauzia Tyassuma, M.Sc.

.png)
