Sebagai seorang komandan, saya tidak pernah mengajarkan anggota untuk bekerja asal-asalan. Saya selalu menekankan bahwa seorang security harus disiplin, bertanggung jawab, sigap, sopan, memiliki loyalitas, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada perusahaan maupun tamu.
Tetapi ada satu hal yang juga harus kita bicarakan secara jujur.
Bagaimana kita bisa menuntut seseorang bekerja seperti security yang mendapatkan gaji sesuai UMR, sementara kesejahteraan yang diterimanya masih jauh di bawah UMR?
Tugasnya sama.
Risikonya sama.
Jam kerjanya sama.
Berdiri berjam-jam sama.
Menghadapi komplain tamu sama.
Menjaga keamanan aset perusahaan sama.
Bahkan ketika terjadi masalah, security tetap menjadi orang pertama yang dituntut untuk bertanggung jawab.
Namun, ketika berbicara tentang kesejahteraan, nilainya berbeda.
Saya tidak mengatakan bahwa gaji rendah menjadi alasan untuk tidak disiplin. Tidak. Seorang security tetap harus menjalankan tugas dengan baik dan profesional.
Tetapi kita juga harus melihat persoalan ini dari dua sisi.
Jangan hanya menuntut hasil kerja yang maksimal. Berikan juga penghargaan dan kesejahteraan yang layak kepada orang yang menghasilkan pekerjaan tersebut.
Karena seorang security bukan sekadar seseorang yang berdiri di pintu masuk.
Di balik seragam itu ada seorang manusia.
Ada keluarga yang harus dinafkahi.
Ada kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi.
Ada rasa lelah yang harus ditahan.
Ada risiko yang harus dihadapi setiap hari.
Maka jangan heran jika motivasi seseorang bisa berbeda ketika apa yang diberikan kepadanya tidak sebanding dengan tuntutan yang dibebankan kepadanya.
Kinerja yang baik membutuhkan tanggung jawab dari anggota. Tetapi kesejahteraan yang baik juga membutuhkan tanggung jawab dari perusahaan.
Kalau ingin security bekerja profesional, maka perlakukanlah mereka sebagai tenaga profesional.
Kalau ingin mereka memiliki loyalitas, berikan alasan bagi mereka untuk merasa dihargai.
Kalau ingin mereka memberikan pelayanan terbaik kepada perusahaan, jangan lupa bahwa mereka juga membutuhkan pelayanan terbaik dalam bentuk perhatian dan kesejahteraan.
Pada akhirnya, bukan hanya security yang harus dievaluasi. Sistem, kebijakan, beban kerja, dan kesejahteraan juga harus ikut dievaluasi.
Karena jangan sampai kita terus bertanya:
“Mengapa mereka tidak bekerja maksimal?”
Sementara kita lupa bertanya:
“Apakah yang kita berikan kepada mereka sudah sebanding dengan apa yang kita tuntut dari mereka?”
Sebab tanggung jawab yang besar membutuhkan penghargaan yang layak. Dan orang yang merasa dihargai akan lebih mudah memberikan yang terbaik.
KOMANDAN SECURITY: ANTARA DISIPLIN KEMILITERAN DAN PROFESIONALISME SIPIL
Menjadi seorang komandan security bukan hanya tentang berdiri paling depan ketika apel, memberikan perintah, atau mengawasi anggota saat bertugas. Lebih dari itu, seorang komandan memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan profesionalisme anggotanya.
Namun, dalam pelaksanaannya, terdapat perbedaan yang cukup terasa antara komandan security yang memiliki latar belakang kemiliteran, komandan yang tumbuh dari lingkungan sipil, dan komandan yang benar-benar dibentuk melalui pengalaman profesional di bidang security.
Bagi seseorang yang pernah mendapatkan pembinaan dengan pola kemiliteran, disiplin bukanlah sekadar aturan tertulis. Disiplin sudah menjadi kebiasaan.
Datang tepat waktu adalah kewajiban.
Seragam harus rapi.
Perintah harus dipahami.
Tugas harus dilaksanakan.
Laporan harus diberikan.
Kesalahan harus segera diperbaiki.
Pola tersebut membentuk sebuah pemikiran sederhana:
"Kalau sudah menjadi tanggung jawab, maka harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya."
Karena itu, ketika seseorang yang memiliki pola pikir tersebut menjadi komandan security di lingkungan sipil, terkadang muncul perbedaan cara pandang dengan anggota.
Komandan mungkin melihat bahwa kedisiplinan adalah harga diri seorang petugas keamanan. Sementara sebagian anggota mungkin melihat pekerjaan hanya sebatas menjalankan tugas sesuai kebutuhan.
Di sinilah tantangan seorang komandan sebenarnya dimulai.
Seorang komandan tidak boleh sekadar memindahkan pola militer ke lingkungan sipil. Security bukan prajurit, dan lingkungan kerja sipil memiliki karakter yang berbeda.
Di hotel, misalnya, security bukan hanya bertugas menjaga keamanan. Mereka juga berhadapan dengan tamu, memberikan pelayanan, berkomunikasi dengan berbagai karakter manusia, menjaga citra perusahaan, menangani konflik, dan harus mampu mengambil keputusan dengan tenang.
Karena itu, ketegasan harus berjalan bersama komunikasi.
Komandan yang profesional bukanlah komandan yang paling sering membentak anggotanya.
Komandan profesional adalah orang yang mampu membuat anggotanya memahami mengapa sebuah aturan harus dijalankan.
Ia memberikan contoh sebelum memberikan perintah.
Ia membina sebelum memberikan hukuman.
Ia mengingatkan sebelum memberikan teguran.
Dan ketika teguran sudah diberikan berulang kali tetapi pelanggaran tetap dilakukan, ia mampu mengambil tindakan sesuai aturan yang berlaku.
DISIPLIN BUKAN BERARTI KERAS
Ada anggapan bahwa komandan yang disiplin harus selalu keras.
Padahal tidak demikian.
Disiplin bukan berarti marah-marah.
Disiplin berarti konsisten.
Hari ini aturan diterapkan, besok juga diterapkan. Kepada anggota yang dekat maupun yang tidak dekat, standar tetap sama.
Seorang komandan harus mampu mengatakan:
"Saya tidak meminta kalian melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya hanya meminta kalian melaksanakan tanggung jawab sebagaimana mestinya."
Kalimat sederhana tersebut sebenarnya merupakan inti dari kepemimpinan.
Sebab anggota akan lebih mudah menghormati komandan yang memberikan contoh daripada komandan yang hanya pandai memberikan perintah.
PEMBINAAN YANG IDEAL
Pembinaan security seharusnya tidak berhenti pada apel dan pengarahan.
Pembinaan harus dilakukan secara berkelanjutan.
Dimulai dari kedisiplinan dasar, kerapian, sikap dan etika, kemudian dilanjutkan dengan pemahaman SOP, pelayanan kepada tamu, komunikasi, penanganan konflik, pengamanan lingkungan, keadaan darurat, kebakaran, evakuasi, pertolongan pertama, hingga kemampuan membuat laporan.
Setelah itu harus ada evaluasi.
Mana anggota yang sudah berkembang?
Mana yang masih perlu dibimbing?
Mana yang melakukan kesalahan karena belum memahami?
Dan mana yang sebenarnya sudah memahami tetapi sengaja tidak melaksanakan?
Keempat kondisi tersebut tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama.
Di sinilah seorang komandan dituntut memiliki kemampuan membaca manusia.
Karena membina anggota bukan hanya mengajarkan pekerjaan, tetapi juga memahami karakter orang yang dibina.
ANTARA KOMANDAN DAN ANGGOTA
Seorang komandan tidak boleh terlalu dekat sampai kehilangan wibawa.
Tetapi juga tidak boleh terlalu jauh sampai anggota takut menyampaikan masalah.
Hubungan yang ideal adalah:
dekat secara komunikasi, tegas dalam aturan, dan profesional dalam pekerjaan.
Anggota harus merasa bahwa komandan bisa diajak berbicara ketika menghadapi masalah.
Namun anggota juga harus memahami bahwa ketika menyangkut disiplin dan tugas, komandan tidak boleh pilih kasih.
Sebab ketika seorang komandan mulai membiarkan satu pelanggaran, anggota lainnya akan bertanya:
"Kalau dia boleh, kenapa saya tidak?"
Dari situlah disiplin perlahan mulai runtuh.
PROFESIONALISME ADALAH PERPADUAN
Pada akhirnya, seorang security profesional tidak harus menjadi seperti tentara.
Tetapi security dapat mengambil banyak nilai positif dari dunia kemiliteran:
disiplin, loyalitas, tanggung jawab, keberanian, kesiapsiagaan, kekompakan, dan kepemimpinan.
Kemudian nilai-nilai tersebut dipadukan dengan karakter security sipil:
pelayanan, komunikasi, keramahan, pengendalian emosi, kemampuan menghadapi masyarakat, pemahaman SOP, dan profesionalisme.
Itulah yang seharusnya menjadi karakter seorang security profesional.
Bukan sekadar keras, tetapi tegas.
Bukan sekadar patuh, tetapi memahami tanggung jawab.
Bukan sekadar takut kepada komandan, tetapi menghormati kepemimpinan.
Dan bukan bekerja karena takut mendapatkan teguran, tetapi bekerja karena menyadari bahwa keamanan adalah sebuah tanggung jawab.
PADA AKHIRNYA...
Seorang komandan boleh memiliki latar belakang kemiliteran.
Seorang komandan boleh berasal dari sipil.
Seorang komandan juga bisa tumbuh dari pengalaman panjang sebagai security.
Tetapi semuanya akan kembali kepada satu pertanyaan:
Apakah ia mampu membentuk anggota menjadi lebih baik daripada sebelumnya?
Karena ukuran keberhasilan seorang komandan bukan seberapa keras suaranya ketika memberikan perintah.
Bukan pula seberapa banyak anggota yang takut kepadanya.
Melainkan seberapa banyak anggota yang setelah dibina akhirnya mampu bekerja dengan disiplin, bertanggung jawab, profesional, dan dapat dipercaya meskipun komandannya tidak sedang berdiri di samping mereka.
Itulah arti seorang komandan yang sesungguhnya.
Ia tidak hanya menjaga keamanan sebuah tempat.
Ia juga menjaga disiplin, membentuk karakter, dan meninggalkan standar kerja yang baik kepada orang-orang yang pernah berada di bawah kepemimpinannya.
Jika ada kesamaan kata, kalimat, ataupun cerita dalam narasi ini, itu hanyalah sebuah kebetulan dan bukan bermaksud menyindir, menyinggung, atau menyudutkan pihak tertentu.

.png)
