Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan

DKP Kabupaten Sukabumi Dorong Masyarakat Tak Lagi Bergantung Pada Nasi, Pangan Lokal Jadi Pilihan Sehat Dan Bergizi

Iki Supratman
Minggu, 09 Agustus 2026
Last Updated 2026-08-09T12:44:17Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
BUTUH BANTUAN HUKUM ?

 


Sukabumi – 1detik asia

Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Sukabumi terus mendorong masyarakat untuk memperluas pola konsumsi pangan dengan tidak menjadikan nasi sebagai satu-satunya sumber karbohidrat.


Melalui kampanye “Kenyang Tidak Harus Nasi!”, DKP Kabupaten Sukabumi mengajak masyarakat memanfaatkan beragam pangan lokal yang tersedia di wilayah Sukabumi. Pesan tersebut menekankan bahwa kebutuhan karbohidrat masyarakat dapat dipenuhi dari berbagai komoditas pangan lokal, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan daerah.


Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi, dr. Gatot Sugiharto, Sp.B., MARS, mengatakan diversifikasi pangan merupakan langkah penting untuk membangun pola konsumsi masyarakat yang lebih beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA).


Menurutnya, masyarakat tidak perlu terpaku pada beras putih sebagai satu-satunya pilihan makanan pokok. Kabupaten Sukabumi memiliki berbagai sumber pangan lokal yang dapat diolah menjadi makanan yang menarik, bernilai gizi dan sesuai dengan kebutuhan keluarga.


“Kenyang itu tidak harus selalu dengan nasi. Kita memiliki banyak sumber pangan lokal yang dapat menjadi alternatif karbohidrat, seperti jagung, singkong, ubi jalar, kentang, sagu, sorgum, talas dan pisang,” ujar Gatot.

 

Ia menjelaskan, diversifikasi pangan bukan berarti menghilangkan konsumsi nasi, melainkan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap satu jenis komoditas pangan.


Selain menjaga ketersediaan pangan, diversifikasi juga dinilai dapat menjadi strategi menghadapi berbagai risiko yang dapat mengganggu pasokan pangan. Dengan semakin banyak pilihan sumber karbohidrat, masyarakat memiliki alternatif ketika terjadi gangguan produksi maupun distribusi beras.


DKP Kabupaten Sukabumi juga menekankan bahwa pangan lokal memiliki potensi kandungan serat, vitamin dan mineral yang penting bagi tubuh. Karena itu, pola makan masyarakat diharapkan tidak hanya mengejar rasa kenyang, tetapi juga memperhatikan kualitas dan keseimbangan gizi.


“Yang kita bangun adalah kesadaran masyarakat bahwa makan bukan hanya soal kenyang. Kita ingin masyarakat memahami pentingnya makanan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman,” jelasnya.


Gatot menambahkan, penguatan pangan lokal juga memiliki dampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat. Semakin tinggi konsumsi pangan lokal, maka semakin besar pula peluang produk petani dan pelaku usaha pangan lokal untuk terserap pasar.


Menurutnya, potensi tersebut perlu terus dikembangkan melalui kreativitas pengolahan pangan. Komoditas seperti singkong, talas, jagung, ubi dan pisang tidak harus dikonsumsi dalam bentuk sederhana, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk makanan yang memiliki nilai tambah.


Langkah tersebut sejalan dengan arah pembangunan ketahanan pangan Kabupaten Sukabumi. Dokumen perencanaan DKP menempatkan peningkatan ketahanan pangan sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah, termasuk mendorong kemandirian dan pemanfaatan potensi pangan di tingkat masyarakat.


Sebelumnya, DKP Kabupaten Sukabumi juga aktif mendorong pola konsumsi B2SA melalui berbagai program edukasi. Pada Juni 2026, misalnya, DKP meluncurkan program SAHABAT B2SA di SMAN 1 Cikembar sebagai upaya mengenalkan konsumsi pangan beragam, bergizi, seimbang dan aman kepada generasi muda.


Upaya pemanfaatan pangan lokal juga telah diarahkan untuk mendukung kebutuhan pangan bergizi, termasuk dalam penguatan penyediaan pangan lokal untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).


Kepala DKP Kabupaten Sukabumi mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan diversifikasi pangan dari lingkungan keluarga.


Ia berharap orang tua dapat mengenalkan berbagai jenis pangan lokal kepada anak-anak sejak dini sehingga konsumsi makanan tidak hanya berorientasi pada nasi dan lauk-pauk, tetapi juga mencakup berbagai sumber pangan yang tersedia di daerah.


“Mari kita mulai dari rumah. Tidak harus langsung mengganti nasi sepenuhnya, tetapi kita bisa mulai memperkenalkan dan mengonsumsi pangan lokal secara lebih beragam. Dengan begitu, ketahanan pangan tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama masyarakat,” tandas Gatot.

 

Kampanye “Kenyang Tidak Harus Nasi” pun diharapkan menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan bukan sekadar persoalan ketersediaan beras, tetapi juga menyangkut keragaman pangan, kualitas gizi, keamanan pangan, kesejahteraan petani, serta kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan.


Dengan mengoptimalkan potensi jagung, singkong, ubi jalar, kentang, sagu, sorgum, talas dan pisang, Kabupaten Sukabumi memiliki peluang besar untuk membangun budaya konsumsi pangan yang lebih beragam sekaligus memperkuat ekonomi pangan lokal.


“Cerdas pangan, generasi berkualitas,” menjadi semangat yang terus didorong DKP Kabupaten Sukabumi dalam membangun masyarakat yang tidak hanya kenyang, tetapi juga sehat dan bergizi.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan