Jakarta - 1detik.asia – Aliansi Cipayung yang terdiri dari DPD GMNI Jakarta, PMII DKI Jakarta, HMI Badko Jakarta, dan FMN menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Negara pada Senin (29/6/2026). Massa yang berupaya menuju kawasan Istana dihadang aparat kepolisian hingga terjadi ketegangan dan bentrokan.
Setelah akses menuju Istana ditutup, para demonstran melanjutkan aksi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Dalam pernyataan mereka, peserta aksi menuding adanya dugaan penyusupan oleh orang-orang yang disebut sebagai "preman" maupun "intelijen" ke dalam barisan demonstran. Mereka juga mengklaim beberapa wajah yang sama pernah muncul dalam aksi-aksi sebelumnya. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait tuduhan tersebut.
Aksi ini juga menjadi bentuk kritik terhadap program Koperasi Kelurahan/Desa Merah Putih (KDMP) yang dikaitkan dengan program SPPI, menyusul insiden yang menewaskan lima peserta sipil saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil). Bagi para peserta aksi, lima korban tersebut bukan sekadar angka, melainkan nyawa manusia yang harus dihargai dan dilindungi.
Selain menyampaikan duka dan solidaritas, massa mendesak pemerintah menghentikan program KDMP, menolak pembentukan batalion teritorial, serta meminta evaluasi terhadap kebijakan yang dinilai memperluas keterlibatan militer di ranah sipil. Mereka juga menyerukan agar penyelesaian persoalan masyarakat lebih mengedepankan prinsip demokrasi dan supremasi sipil.
Bagaimana pendapat Anda mengenai tuntutan yang disampaikan dalam aksi ini?

.png)
