Medan ,1detik.asia —
Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas menunjukkan sinyal politik kolaboratif dengan merangkul kalangan intelektual dan alumni aktivis mahasiswa dalam agenda buka puasa bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Utara, Kamis (12/3/2026).
Pertemuan yang berlangsung di kawasan Taman Setia Budi Indah II itu tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi Ramadan, tetapi juga dinilai sebagai momentum konsolidasi gagasan antara pemerintah kota dan kelompok strategis masyarakat sipil yang selama ini dikenal memiliki pengaruh dalam dinamika sosial dan pembangunan daerah.
Dalam pidatonya, Rico Waas menegaskan bahwa kepemimpinan modern tidak bisa berjalan secara tertutup, melainkan harus dibangun melalui partisipasi kolektif dan pertukaran gagasan dari kelompok-kelompok intelektual yang memiliki rekam jejak perjuangan panjang.
"Saya bersyukur bisa bertemu dengan para senior KAHMI yang kontribusinya nyata dalam perjalanan pembangunan Sumatera Utara, termasuk Kota Medan," ujar Rico.
Ia secara terbuka mengakui bahwa kekuatan pemikiran alumni Himpunan Mahasiswa Islam yang tergabung dalam KAHMI merupakan modal sosial penting dalam merumuskan arah pembangunan kota ke depan.
Menurutnya, kota sebesar Medan yang dihuni jutaan penduduk tidak mungkin dibangun hanya dengan pendekatan birokrasi semata, melainkan membutuhkan kekuatan ide, kritik konstruktif, serta keberanian intelektual dari kelompok masyarakat terdidik.
"Saya berharap KAHMI Sumut dapat terus memberikan kritik, gagasan, dan pemikiran strategis. Kota ini tidak bisa dibangun sendiri. Harus ada ruang dialog, ruang diskusi, dan ruang kolaborasi," tegasnya.
Dalam pernyataan yang cukup reflektif, Rico juga menyinggung latar belakangnya yang berasal dari kalangan profesional, bukan dari jalur politik tradisional. Hal tersebut, menurutnya, justru menjadi alasan mengapa dirinya membutuhkan perspektif yang luas dalam menjalankan pemerintahan.
Pernyataan ini dinilai sebagai pesan bahwa kepemimpinannya ingin bergerak dengan pendekatan teknokratis yang tetap terbuka terhadap kekuatan moral dan intelektual masyarakat.
"Saya datang dari dunia profesional. Karena itu saya sadar, saya membutuhkan banyak pandangan, banyak masukan, dan banyak perspektif agar kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada kemajuan Kota Medan," ujarnya.
Pengamat menilai, pertemuan dengan KAHMI juga mencerminkan pentingnya membangun komunikasi dengan kelompok alumni organisasi mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan moral dan intelektual dalam proses pembangunan bangsa.
Acara tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan kota ke depan tidak hanya bertumpu pada kekuatan anggaran dan birokrasi, tetapi juga pada kekuatan jaringan sosial, legitimasi moral, dan dukungan intelektual masyarakat.
Momentum ini menjadi penanda bahwa arah kepemimpinan Rico Waas berpotensi mengedepankan model pembangunan partisipatif, di mana pemerintah tidak berdiri sebagai aktor tunggal, tetapi sebagai simpul dari kolaborasi berbagai kekuatan sosial.
Di tengah tantangan urbanisasi, persoalan ekonomi perkotaan, serta tuntutan tata kelola modern, kolaborasi antara pemerintah dan kelompok intelektual seperti KAHMI dinilai dapat menjadi salah satu kunci dalam mempercepat transformasi Kota Medan menuju kota metropolitan yang berdaya saing dan berkarakter.
Kalau mau, saya juga bisa buatkan versi yang lebih “menggigit” lagi seperti gaya opini politik (lebih ideologis dan kritis) atau versi framing politiknya lebih kuat seperti analisis kekuatan jaringan HMI–KAHMI dalam peta kekuasaan lokal.
( Ibrahim - Ulong )

.png)

