Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan

Hari Pangan Sedunia, Kabupaten Sukabumi Perkuat Ketahanan Pangan Berbasis Potensi Lokal, Kadis: Jangan Biarkan Kekayaan Pangan Kita Terlupakan!

Iki Supratman
Kamis, 05 November 2026
Last Updated 2026-11-05T05:43:22Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
BUTUH BANTUAN HUKUM ?

 


Sukabumi – 1detik.asia

Pemerintah Kabupaten Sukabumi terus memperkuat langkah strategis dalam membangun ketahanan pangan daerah dengan mengoptimalkan potensi sumber daya pangan lokal, mendorong inovasi diversifikasi pangan, serta memperluas kolaborasi lintas sektor.


Komitmen tersebut ditegaskan melalui rangkaian peringatan Hari Pangan Sedunia yang mengusung tema “Innovate Today, Nourish Tomorrow” atau berinovasi hari ini untuk memenuhi kebutuhan pangan masa depan.


Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa ketahanan pangan bukan sekadar persoalan ketersediaan bahan makanan, melainkan menyangkut kemandirian daerah, kualitas gizi, pola konsumsi sehat, keberlanjutan lingkungan, hingga kesejahteraan masyarakat.


Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi, dr. Gatot Sugiharto, Sp.B, MARS, M.Kom., menegaskan bahwa Kabupaten Sukabumi memiliki kekayaan sumber daya pangan lokal yang sangat potensial untuk dikembangkan. Potensi tersebut harus menjadi kekuatan utama dalam membangun kemandirian pangan daerah, bukan justru dibiarkan kurang dikenal dan tergeser oleh pola konsumsi pangan dari luar.


Menurut Gatot, ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama yang tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Diperlukan keterlibatan aktif masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas, serta media agar pengembangan pangan lokal dapat berjalan secara berkelanjutan.


"Ketahanan pangan adalah milik kita bersama. Kabupaten Sukabumi dikaruniai potensi pangan yang luar biasa dan tidak semua daerah memiliki kekayaan seperti ini. Karena itu, potensi yang kita miliki harus diberdayakan secara maksimal melalui inovasi, edukasi, dan kolaborasi seluruh elemen," tegas Gatot.


Ia menjelaskan, salah satu pendekatan yang terus didorong dalam memperkuat ketahanan pangan adalah kolaborasi lima unsur atau dikenal dengan konsep ABCGM, yakni Academician, Business, Community, Government, dan Media.


Kelima unsur tersebut memiliki peran yang saling berkaitan. Akademisi berkontribusi melalui penelitian dan pengembangan inovasi, dunia usaha mendorong pengolahan serta nilai tambah produk pangan, komunitas menjadi penggerak di tengah masyarakat, pemerintah menghadirkan kebijakan dan program pendukung, sementara media berperan memperluas edukasi serta informasi kepada publik.


"Ketahanan pangan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi antara akademisi, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, dan media. Dengan kolaborasi tersebut, potensi pangan lokal tidak hanya dikenal, tetapi juga mampu dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan sumber kesejahteraan masyarakat," ungkapnya.


Dalam mendukung upaya tersebut, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi menjalankan tugas melalui tiga bidang utama, yakni bidang sumber daya ekonomi dan ketersediaan pangan, bidang diversifikasi pangan, serta bidang kerawanan pangan.


Ketiga bidang tersebut memiliki peran strategis dalam memastikan ketersediaan pangan, meningkatkan keberagaman konsumsi masyarakat, sekaligus mengantisipasi berbagai persoalan kerawanan pangan di wilayah Kabupaten Sukabumi.


Salah satu perhatian utama adalah meningkatkan literasi dan edukasi pangan sejak usia dini. Sebab, perubahan pola konsumsi masyarakat perlu dibangun melalui pemahaman yang baik mengenai pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman.


Dalam kegiatan peringatan Hari Pangan Sedunia tersebut, Dinas Ketahanan Pangan juga menghadirkan berbagai sarana edukasi indoor dan outdoor. Media edukatif tersebut dirancang agar mudah dipahami oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar tingkat sekolah dasar, SMP, SMA hingga komunitas masyarakat.


Menariknya, salah satu media edukasi outdoor berupa rumah boneka atau dollhouse dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas yang diolah secara kreatif oleh jajaran bidang diversifikasi pangan.


Inovasi tersebut tidak hanya menjadi sarana pembelajaran mengenai pangan, tetapi juga memperkenalkan pentingnya kreativitas, pemanfaatan barang bekas, dan kepedulian terhadap lingkungan.


Komoditas sukun turut menjadi salah satu perhatian dalam kampanye pengembangan pangan lokal. Tanaman yang banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai alternatif sumber karbohidrat, sekaligus dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah.


Gatot menilai, masyarakat perlu kembali membangun kebiasaan mengonsumsi pangan lokal. Jangan sampai kekayaan pangan yang tersedia di lingkungan sendiri justru semakin ditinggalkan karena perubahan tren makanan, terutama di kalangan generasi muda.


"Jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal makanan Korea, takoyaki, dan berbagai makanan luar negeri, tetapi justru melupakan pangan lokal seperti sukun dan umbi-umbian. Padahal, kita memiliki sumber pangan alami yang sangat beragam dan berpotensi menjadi kekuatan pangan masa depan," ujarnya.


Menurutnya, diversifikasi pangan menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap satu jenis bahan pangan. Semakin beragam sumber pangan yang dikonsumsi, semakin terbuka pula peluang masyarakat untuk mendapatkan asupan gizi yang lebih baik.


Selain pengembangan komoditas lokal, perubahan pola konsumsi masyarakat juga menjadi perhatian serius. Kesadaran untuk memilih makanan sehat dan bergizi harus terus ditingkatkan agar masyarakat tidak terjebak pada kebiasaan mengonsumsi makanan yang kurang memperhatikan keseimbangan nutrisi.


Gatot menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya diukur dari ketersediaan bahan pangan di pasar atau keberhasilan program pemerintah. Lebih dari itu, masyarakat harus memiliki akses terhadap pangan yang cukup, beragam, bergizi, seimbang, dan aman.


Karena itu, penguatan ketahanan pangan harus dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa dan kelurahan, hingga lingkungan keluarga.


"Kita ingin ketahanan pangan bukan hanya menjadi program pemerintah atau kegiatan seremonial. Ketahanan pangan harus benar-benar menjadi kesadaran bersama. Dimulai dari negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa dan kelurahan, sampai akhirnya diterapkan di setiap rumah tangga," tegasnya.


Ia juga menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi paling dasar dalam membangun ketahanan pangan. Kebiasaan memilih bahan makanan, mengolah pangan lokal, serta menyajikan makanan bergizi harus dimulai dari lingkungan rumah tangga.


Dengan demikian, edukasi pangan tidak boleh berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi harus mampu mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.


Lebih lanjut, Gatot menjelaskan bahwa peringatan Hari Pangan Sedunia tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda penguatan ketahanan pangan yang sebelumnya diawali melalui kegiatan High Level Meeting bersama mitra dari empat kabupaten dan satu kota di Hotel Mercure.


Pertemuan tingkat tinggi tersebut menjadi ruang koordinasi dan konsolidasi untuk membangun kesamaan persepsi, memperkuat sinergi, serta merumuskan langkah bersama dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di tingkat regional.


Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi berharap terbangun komitmen yang lebih kuat antara pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengembangkan potensi pangan lokal.


Gatot berharap peringatan Hari Pangan Sedunia tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang bersifat seremonial. Momentum ini harus menjadi titik penggerak untuk memperkuat inovasi, meningkatkan kepedulian terhadap pangan lokal, serta membangun kemandirian pangan masyarakat.


"Potensi pangan di Bumi Sukabumi sangat luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengelola, mengembangkan, dan memanfaatkannya secara optimal. Mari kita bangun kolaborasi, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, agar Kabupaten Sukabumi semakin kuat, mandiri, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan ketahanan pangan," pungkasnya.


Peringatan Hari Pangan Sedunia ini sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar produksi yang dihasilkan, tetapi juga oleh kemampuan daerah dalam menjaga sumber daya lokal, menghadirkan inovasi, memperluas diversifikasi pangan, dan membangun kesadaran masyarakat.


Dengan mengoptimalkan kekayaan pangan lokal dan memperkuat kolaborasi lima unsur ABCGM, Kabupaten Sukabumi diharapkan mampu menjadikan sektor pangan sebagai salah satu fondasi pembangunan daerah sekaligus mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, sejahtera, dan mandiri.


Penulis. Iki supratman

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan