Seorang komandan sekuriti harus mampu memahami bahwa perusahaan tidak berdiri sendiri. Di sekitar perusahaan terdapat masyarakat, lingkungan tempat tinggal warga, anak-anak, tokoh masyarakat, pedagang, pengemudi, dan berbagai aktivitas sosial lainnya. Karena itu, membangun hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar merupakan salah satu bagian penting dalam menciptakan situasi keamanan yang kondusif.
Selama menjalankan tugas, saya selalu berusaha membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan warga sekitar perusahaan. Saya tidak ingin keberadaan sekuriti justru menciptakan jarak dengan masyarakat. Sebaliknya, saya berusaha agar masyarakat mengetahui bahwa sekuriti hadir bukan hanya untuk menjaga perusahaan, tetapi juga untuk ikut menciptakan lingkungan yang aman dan tertib.
Saya juga berusaha menghargai masyarakat sekitar, termasuk anak-anak warga yang berada di lingkungan perusahaan. Hal sederhana seperti menyapa, berkomunikasi dengan baik, dan menunjukkan sikap menghargai ternyata mempunyai dampak yang besar.
Ketika masyarakat merasa dihargai, secara perlahan akan tumbuh rasa saling menghormati dan kepercayaan.
Dari situlah hubungan antara perusahaan, sekuriti, dan masyarakat menjadi lebih kuat.
Dalam kenyataannya, hubungan baik tersebut sangat membantu pelaksanaan tugas pengamanan. Ketika warga melihat sesuatu yang mencurigakan, mengetahui adanya kejadian di sekitar perusahaan, atau mendapatkan informasi yang berhubungan dengan keamanan, mereka tidak segan menyampaikan informasi kepada petugas sekuriti.
Informasi dari masyarakat tentu tidak langsung dianggap sebagai kebenaran tanpa pemeriksaan. Namun, informasi tersebut dapat menjadi bahan awal bagi petugas untuk melakukan pengecekan dan mengambil langkah sesuai prosedur.
Inilah yang saya maksud dengan membangun sistem keamanan bersama.
Sekuriti menjaga perusahaan, masyarakat menjaga lingkungannya, dan keduanya saling memberikan informasi ketika melihat sesuatu yang perlu diperhatikan.
Saya percaya, keamanan yang baik bukan hanya ditentukan oleh jumlah personel atau kelengkapan peralatan pengamanan. Faktor komunikasi, kepedulian, kedisiplinan, dan hubungan dengan lingkungan juga sangat menentukan.
Bahkan dalam situasi tertentu, permasalahan yang terjadi di luar area perusahaan tetap bisa menyentuh tanggung jawab moral kita sebagai petugas keamanan.
Contohnya, pernah terjadi seorang tamu perusahaan yang sudah meninggalkan area perusahaan kemudian mengalami musibah berupa penjambretan di luar area. Secara wilayah, kejadian tersebut memang sudah berada di luar tanggung jawab pengamanan perusahaan.
Namun, ketika kami mengetahui bahwa orang tersebut adalah tamu perusahaan yang baru saja meninggalkan lokasi dan mengalami musibah, kami tidak kemudian bersikap masa bodoh.
Kami berusaha memberikan bantuan sesuai kewenangan dan prosedur yang berlaku, membantu menghubungi pihak yang diperlukan, memberikan informasi, serta memastikan korban mendapatkan penanganan yang semestinya.
Bukan berarti sekuriti mengambil alih tugas kepolisian atau pihak berwenang. Tidak. Setiap kejadian tetap harus ditangani sesuai kewenangan masing-masing.
Tetapi sebagai petugas keamanan, kita mempunyai rasa kepedulian terhadap keselamatan orang yang sebelumnya berada di lingkungan perusahaan kita.
Menurut saya, sikap seperti inilah yang kemudian membangun kepercayaan.
Masyarakat akan melihat bahwa sekuriti bukan hanya bertugas ketika berada di dalam pagar perusahaan. Mereka melihat bagaimana kita bersikap, bagaimana kita menghargai warga, bagaimana kita menghadapi masalah, dan bagaimana kita memberikan bantuan ketika memang diperlukan.
Selama saya dipercaya menjadi komandan sekuriti, saya berusaha menjaga prinsip tersebut.
Tegas dalam menjalankan aturan, tetapi tetap humanis dalam berkomunikasi.
Disiplin kepada anggota, tetapi tetap menghargai masyarakat.
Menjaga perusahaan, tetapi tidak menutup mata terhadap lingkungan sekitar.
Karena pada akhirnya, tujuan utama pengamanan bukan sekadar mengatakan bahwa perusahaan aman.
Tujuan kita adalah menciptakan kondisi di mana karyawan merasa aman, tamu merasa nyaman, perusahaan merasa terlindungi, dan masyarakat sekitar merasa dihargai.
Ketika hubungan tersebut terbangun dengan baik, maka keamanan menjadi lebih kuat.
Sebab keamanan yang sesungguhnya bukan hanya dibangun oleh sekuriti yang berdiri di pos penjagaan.
Keamanan dibangun oleh kepercayaan, komunikasi, kepedulian, kedisiplinan, dan kerja sama antara perusahaan, sekuriti, serta masyarakat sekitar.
Dan pengalaman di lapangan membuktikan bahwa ketika kita menghargai lingkungan, lingkungan pun akan menghargai keberadaan kita.
DI BALIK SERAGAM SEKURITI, ADA HATI YANG INGIN DIHARGAI
Di balik seragam sekuriti yang kami kenakan setiap hari, ada manusia yang juga ingin dihargai, diperhatikan, dan dianggap sebagai bagian dari keluarga besar tempat kami bekerja.Kami datang bukan hanya untuk menjaga pintu, mengatur kendaraan, mengawasi keamanan, atau berdiri berjam-jam menjalankan tugas. Kami juga memiliki hati, memiliki kebutuhan, memiliki keluarga, dan memiliki harapan agar pekerjaan yang kami jalankan dihargai dengan baik.
Terkadang seorang Komandan Sekuriti berada di posisi yang serba salah. Di satu sisi harus mengikuti kebijakan yayasan atau vendor. Di sisi lain, ada perusahaan tempat kami ditugaskan yang justru memberikan perhatian dan kebijaksanaan kepada kami.
Yang membuat hati tersentuh adalah ketika seorang GM di tempat kami bertugas tidak pernah membeda-bedakan antara karyawan perusahaan dengan sekuriti vendor. Kami tetap diajak bersama, diperhatikan, bahkan kebutuhan kami pun dipedulikan.
Beliau tidak hanya berbicara tentang salam, senyum, dan sapa, tetapi memberikan contoh secara langsung. Ketika beliau hadir, sekuriti diarahkan untuk tampil bersama, kompak, rapi, dan menunjukkan bahwa kami adalah bagian penting dari lingkungan kerja.
Hal-hal sederhana seperti itu ternyata sangat berarti bagi seorang sekuriti.
Sebab terkadang kami tidak membutuhkan sesuatu yang besar. Kami hanya ingin merasa dianggap ada.
Di tempat kami bertugas, perhatian itu kami rasakan. Sementara dari pihak yang menaungi kami sebagai vendor, terkadang perhatian tersebut justru terasa jauh dan kurang kami rasakan.
Namun kami tidak ingin menyalahkan siapa pun.
Kami hanya berharap suatu hari nanti pihak vendor juga bisa melihat kami bukan sekadar tenaga kerja yang ditempatkan di suatu perusahaan, tetapi sebagai manusia yang setiap hari berjuang menjaga nama baik perusahaan, menjaga keamanan, dan menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesetiaan.
Karena pada akhirnya, seorang sekuriti bukan hanya membutuhkan seragam dan perintah. Kami juga membutuhkan penghargaan, perhatian, dan rasa dihargai sebagai manusia.
Dan mungkin inilah pelajaran paling sederhana dari semua yang kami alami:
Pemimpin yang baik bukan hanya pandai memberikan perintah, tetapi mampu membuat orang yang dipimpinnya merasa berharga.
Karena satu perhatian kecil dari seorang pemimpin, terkadang mampu membuat seseorang bertahan dan memberikan pengabdian terbaiknya.
KETULUSAN SEORANG KOMANDAN YANG SERING DI SALAHPAHAMI:Bekerja dengan Tanggung Jawab, Menghadapi Rintangan, Tetap Berdiri Teguh”
Karena ketulusan dan tanggung jawab tidak selalu langsung dibalas dengan penghargaan. Dalam pekerjaan, terutama sebagai komandan keamanan, ukuran keberhasilan bukan hanya dari seberapa baik kita menjalankan tugas, tetapi juga dari bagaimana orang lain melihat, menilai, dan merespons pekerjaan kita.Beberapa kemungkinan mengapa seseorang yang sudah bekerja dengan sungguh-sungguh tetap menghadapi rintangan:
Tanggung jawab yang besar membuat kesalahan kecil terlihat besar.
Ketika menjadi komandan, perhatian orang terhadap kinerja kita biasanya lebih tinggi. Hal yang dilakukan dengan benar sering dianggap kewajiban, sementara satu kekurangan justru mudah dipersoalkan.
Tidak semua orang memahami beban seorang pemimpin.
Anggota mungkin hanya melihat perintah yang diberikan, tetapi tidak melihat tekanan, evaluasi, komplain, dan tanggung jawab yang harus dipikul oleh komandan.
Semakin kita berusaha membenahi keadaan, semakin banyak tantangan yang muncul.
Pemimpin yang diam mungkin terlihat tidak punya masalah. Sebaliknya, pemimpin yang aktif menegakkan disiplin justru lebih sering mendapat penolakan.
Kinerja yang baik bukan berarti tidak pernah mendapat kritik.
Kritik bukan selalu tanda bahwa kita gagal. Kadang justru karena posisi kita dianggap penting sehingga tuntutannya lebih tinggi.
Ketulusan harus tetap disertai batas.
Ikhlas bukan berarti membiarkan diri terus-menerus disalahkan. Tanggung jawab bukan berarti harus menanggung semua kesalahan orang lain.
Yang paling penting, jangan sampai penilaian orang membuat hati kehilangan ketulusan. Jalankan tugas sesuai aturan, dokumentasikan pekerjaan, berikan arahan dengan jelas, bina anggota, dan jika ada kekurangan, evaluasi dengan kepala dingin.
Sebagai komandan keamanan, mungkin kalimat yang paling tepat adalah:
“Saya tidak bisa memaksa semua orang mengakui ketulusan saya. Yang bisa saya lakukan adalah memastikan setiap tugas saya jalankan dengan benar. Jika hasil kerja saya masih dianggap kurang, saya akan memperbaikinya. Tetapi saya tidak akan berhenti berbuat baik hanya karena kebaikan saya tidak selalu dihargai.”
Kadang rintangan bukan tanda bahwa kita berada di jalan yang salah. Bisa jadi itu bagian dari ujian seorang pemimpin: apakah tetap profesional ketika dipuji maupun ketika disalahkan.
"Mohon maaf apabila terdapat kesamaan nama, tempat, kejadian, maupun rangkaian kata dalam narasi ini. Tulisan ini semata-mata dibuat sebagai bahan cerita, refleksi, dan pembelajaran, tanpa bermaksud menyudutkan atau merugikan pihak mana pun.”
(swjn)

.png)
