(foto:ilustrasi/editor sawijan)
Setiap malam, SW berdiri tegap di depan pintu masuk gedung perkantoran & perhotelan. Seragam security yang dikenakannya rapi, lengkap dan sepatu hitam mengilap. Baginya, tugas menjaga keamanan adalah tanggung jawab utama.
Namun, ketika malam mulai sepi dan aktivitas gedung mereda, SW menjalani peran lainnya.
Ia membuka ponselnya, mencatat kejadian-kejadian yang ia lihat sepanjang hari. Dari hal kecil seperti keterlambatan karyawan, hingga peristiwa penting seperti kecelakaan di sekitar gedung atau aksi sosial warga. Semua ia rangkai menjadi tulisan yang sederhana, tapi penuh makna.
Tak banyak yang tahu, SW juga seorang jurnalis lepas.
Tulisannya sering dimuat di beberapa media online. Ia tak mengejar popularitas, hanya ingin menyampaikan apa yang benar-benar terjadi di lapangan,langsung dari sudut pandang orang yang jarang diperhatikan.
Suatu malam, terjadi insiden kecil di depan gedung. Seorang pengendara motor menabrak Dan terjatuh karena jalan penyempitan jalan.
SW sigap membantu, memastikan korban aman, lalu kembali ke posnya. Namun, kali ini ia tak hanya bertindak sebagai security.
Ia menulis.
Ia menggambarkan kejadian itu dengan detail,tentang pentingnya penerangan jalan, tentang kepedulian sesama, dan tentang bagaimana hal kecil bisa berdampak besar.
Keesokan harinya, tulisannya ramai dibaca.
Seorang rekannya bertanya,
“Kenapa kamu repot-repot menulis semua ini?”
SW tersenyum.
“Karena saya ada di sini, melihat langsung. Kalau bukan saya yang bercerita, siapa lagi?”
Di balik seragamnya, SW menjalani dua dunia.
Menjaga keamanan, sekaligus menjaga kebenaran lewat kata-kata.
Ia bukan hanya seorang security.
Ia juga jurnalis.
TNI ,POLISI,SRCURITY bisa melukis,membuat patung,juga dekorasi, itu tidak aneh sama sekali,"Justru cukup wajar kalau di lingkungan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, atau satuan keamanan (security) ada kemampuan membuat patung, lukisan, dekorasi, dan karya seni lainnya.
Ada beberapa alasan kuat kenapa hal itu bisa terjadi:
Pertama, soal keterampilan teknis. Personel TNI, polisi, maupun security terbiasa bekerja dengan tangan (hands-on), disiplin, dan detail. Keterampilan seperti mengukir, mengecat, merakit, atau membentuk benda itu sebenarnya masih satu “jalur” dengan seni rupa.
Kedua, kebutuhan internal satuan. Di banyak markas atau pos, mereka sering membuat:
Patung lambang satuan
Diorama sejarah
Gapura, taman, atau dekorasi acara
Ornamen untuk peringatan hari besar
Daripada selalu menyewa pihak luar, lebih efisien kalau dikerjakan sendiri.
Ketiga, budaya kreatif di kesatuan. Banyak anggota punya bakat seni dari sebelum masuk dinas. Lingkungan yang solid dan penuh kegiatan justru jadi tempat menyalurkan kreativitas itu.
Keempat, fungsi psikologis dan kebersamaan. Kegiatan seni:
Mengurangi stres
Meningkatkan kekompakan tim
Memberi rasa bangga terhadap satuan
Kelima, pelatihan dan pembinaan. Di beberapa unit, kemampuan seperti desain, dekorasi, hingga pertukangan memang dilatih secara tidak langsung melalui kegiatan lapangan atau proyek satuan.
Jadi, bukan hal aneh,justru itu kombinasi antara disiplin militer,keterampilan praktis, kreativitas. Bahkan di banyak tempat, hasil karya mereka bisa sangat rapi dan artistik.
Penulis:sawijan.

.png)
