Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan

Kota Tanjungbalai Berdiri 30 Tahun Setelah Kota Medan

Hendra Syahputra
Selasa, 30 Desember 2025
Last Updated 2025-12-30T02:40:46Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
BUTUH BANTUAN HUKUM ?



Tanjungbalai, 1detik.asia - Pada sidang rapat paripurna dalam rangka hari jadi ke-405 kota Tanjungbalai, Wakil Ketua DPRD Tanjungbalai, Surya Darma AR, membacakan sejarah awal berdirinya kota Tanjungbalai. Sabtu (27/12/2025).


Pada 27 Desember 2025, Kota Tanjungbalai genap berusia 405 tahun setelah ditemukan hari berdirinya Tanjungbalai pada tahun 1620. Untuk diketahui Kota Medan didirikan pada tahun 1590, berarti 30 tahun setelah Medan berdirilah Kota Tanjungbalai yang letaknya di pinggir Sungai Asahan dan Sungai Silau.


Dalam naskah singkat sejarah kota Tanjungbalai yang dibacakan Wakil Ketua DPRD dari Fraksi PDIP, bahwa 405 Tahun Kota Tanjungbalai pada dekade tahun 80-an telah diadakan penelitian yang sumber-sumber rujukan dan datanya berasal dari buku-buku sejarah, para sepuh cerita rakyat dan masyarakat Tanjungbalai.


“Dari sumber-sumber tersebut, maka diperoleh kesimpulan Kota Tanjungbalai didirikan pada tanggal 27 Desember 1620 hal tersebut dikukuhkan dengan Keputusan DPRD Tingkat II Kotamadya Tanjungbalai No.4/DPRD-TB/1986 tanggal 25 Desember 1986,” ujarnya. 


SEJARAH RINGKAS KOTA TANJUNGBALAI


Pada abad ke-XV satu keluarga bernama Batara Sinomba Serta Putri Langgagani dari Pagaruyung telah datang ke daerah Barumu dan menetap di desa Pinang Awan yang sekarang termasuk kecamatan Kota Pinang Kabupaten Labuhan Batu. Dari kedua pasangan itu telah lahir seorang Putra yang bergelar Putre Tuan Batara, yang membuka Pemukiman baru sebelah hilir Pinang Awan bernama Air Merah yang akhirnya Raja disana.


Raja Air Merah ini mempunyai dua orang Istri, dari Permaisuri telah dikaruniai dua orang putra dan seorang putri yang bernama Siti Ungu atau Siti Unai, sedangkan dari Istri kedua dikaruniai pula seorang Putra.


Seiring dengan lajunya perkembangan Kerajaan, Sang Istri kedua telah mengatur strategi agar Putra tunggalnya kelak menjadi Raja di Air Merah, untuk itu kedua Putra Mahkota harus segera disingkirkan. Dengan melancarkan sebuah Fitnah yang keji, kedua Putra Mahkota akhirnya dapat disingkirkan, dengan sebuah Perahu mereka diusir agar meninggalkan Air Merah dan Akhirnya sampai di Bandar Negeri Aceh.


Disana mereka dapat bergaul dengan Pekerti yang terpuji. serta akrab dengan Keluarga Kerajaan. Beberapa tahun kemudian, rasa rindu akan kampung Halaman mulai menggoda hati Putra Raja tersebut, dan mereka bersiap untuk kembali ke Negerinya di Air Merah (Barumun).


Sadar bahwa kepulangan mereka tidak akan diterima, maka mereka membawa serta Pengawal yang diperkuat oleh Tentera Kerajaan Aceh. Benar sekali dugaan itu, kedatangan mereka disambut dengan suara tembakan, yang mana Penguasa Negeri itu bukan lagi Ayahanda Mereka, tetapi telah diganti dengan Putra dari Istri kedua. 


Dalam Pertempuran itu kekalahan terjadi pada Pihak Air Merah, Rajanya tertembak, rakyat menjadi kacau balau dan Siti Ungu adik mereka yang terkenal akan kecantikannya tertangkap oleh Tentera Aceh maka kedua Putra Raja itu merelakan Siti Ungu dibawa serta ke Negeri Aceh untuk dipersembahkan menjadi Istri Sultan. 


Setelah putus Mufakat maka pasukan Aceh segera kembali dengan membawa Siti Ungu ke Negerinya, sementara kedua abangnya melanjutkan pemerintahan di Air Merah dengan Bijaksana serta Negeri itu pun menjadi aman dan makmur.


Beberapa tahun kemudian, kedua Putra mahkota itu ingin mengetahui bagaimana keadaan Siti Ungu di Negeri Aceh, selanjutnya mereka berangkat menuju Aceh, dalam perjalanan mereka singgah di Negeri Asahan untuk menemui seorang Bomoh yang akan mereka bawa ikut serta ke Negeri Aceh. Bomoh tersebut bernama BAYAK LINGGA atau SI KARO-KARO yang menguasai banyak ilmu Kedatuan serta pengetahuan kebahasaan.


Setiba mereka di Negeri Aceh telah mendapat sambutan yang baik sekali dari Sultan yang kebetulan pada saat itu mengadakan pertandingan besar dengan tamunya dari kerajaan deberang. Dalam permainan tersebut Sultan kurang beruntung, beliau kalah bertaruh. Dengan keahlian tamunya dari Asahan itu, tiba-tiba Sultan kembali menang dan terbalik lawannya yang menjadi kalah.


Untuk membalas kebaikan tamunya, maka Sultan menawarkan permintaan apa saja dari tamunya tersebut. Tiba-tiba Sultan terperanjat, sebab yang mereka minta adalah Siti Ungu untuk mereka bawa kembali ke Negerinya. Namun pantang bagi seorang Raja untuk mungkir janji walau Siti Ungu pada saat itu dalam keadaan hamil, diizinkan juga mereka bahwa mereka dengan janji 4 (empat) syarat:


1. Siti Ungu tidak boleh menikah sebelum melahirkan, 2. Apabila bayinya laki-laki agar dijadikan Raja, 3. Siti Ungu hanya boleh menikah dengan Bayak Lingga, 4. Turut seorang saksi dari Aceh untuk menyertai Perjalanan mereka.


Dengan putus mufakat mereka pun berangkat menuju Negerinya, sementara Siti Ungu, Bayak Lingga beserta saksi Putra Sakmadir Rasinggah di Negeri Asahan. Setelah Siti Ungu melahirkan, ternyata bayinya adalah seorang Putra dan diberi nama Abdul Jalil Siti Ungu selanjutnya menikah dengan Bayak Lingga yang diberi gelar RAJA BOLON.


Dari perkawinan tersebut lahir seorang putra yang diberi nama Abdul Karim, kemudian keturunannya bergelar Datuk Muda yang menjadi Bahu Kanan Sultan.


Ternyata pada saat Penobatan Sultan, bukan Abdul Jalil yang diangkat, bahkan dia diasingkan ke Daerah Batubara. Atas kejadian itu Abdul Jalil mengirim Surat kepada Sultan Aceh, dan Sultan Aceh sangat murka dengan serta merta beliau datang ke Asahan.


Kedatangannya diterima dengan baik oleh Raja Bolon, dengan mempersiapkan kemah dekat Bandar Pulau sekarang. Tempat tersebut yang diberi nama Marjanji Aceh. 


Dari sana rombongan diperintahkan mengikuti perjalanan ke Hilir Sungai Asahan dan akhirnya sampai pada sebuah Tanjung, dan Sultan memerintahkan agar dibangun BALAI TEMPAT UPACARA secukupnya untuk tempat Penabalan Putranya Abdul Jalil sebagai Sultan Negeri


Peristiwa Penabalan itu terjadi pada tahun 1620 dan tanggal 27 Desember dipetik dari tanggal Wafatnya Sultan Iskandar Muda sebagai Penghargaan atas jasanya sebagai pendiri Tanjungbalai. Dan akhirnya Balai yang dibangun di Tanjung itu disebut dengan TANJUNGBALAI, yang pada hari ini genap berusia 405 (Empat Ratus Lima) Tahun.



iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan