Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan

“Terbelenggu oleh Dunia yang Tak Pernah Adil”

detikNews jakarta
Senin, 26 Januari 2026
Last Updated 2026-01-26T03:54:20Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
BUTUH BANTUAN HUKUM ?
          (ilustrasi/swjn)
Aku memahami diriku sendiri.
Sepintar apa pun aku berpikir, serajin apa pun aku melangkah, dan sebaik apa pun niat yang aku tanamkan, aku tahu satu hal: kekayaan bukanlah jalan yang mudah bagiku. Bukan karena aku malas, bukan karena aku berhenti berusaha, melainkan karena ada takdir yang berjalan di luar kehendakku. Bahkan sering kali, tanpa sebab yang jelas, aku tidak disukai. Aku menerimanya tanpa dendam, tanpa kemarahan.
Aku tidak menyalahkan siapa pun.
Aku memilih tersenyum, memilih memaafkan, meski hati kadang lelah menanggung beban yang tak terlihat. Aku sadar hidup ini bukan hanya tentang apa yang tampak oleh mata, tapi juga tentang apa yang bergerak di balik tirai dunia.
Secara spiritual, aku meyakini adanya yang gaib.
Namun aku tidak gentar. Aku tidak menghiraukan jin, iblis, atau setan yang berusaha menghalangi langkahku, mengaburkan jalanku, atau melemahkan hatiku. Sejak kecil, hidup dan matiku telah aku serahkan sepenuhnya kepada Tuhanku.
Keyakinanku adalah bentengku.
Cintaku kepada nabiku adalah cahaya di jalanku. Maka biarlah jin, iblis, dan setan berusaha menyusahkan aku—selama aku tetap yakin kepada Tuhanku, mereka tidak akan pernah mampu menyesatkanku. Aku mungkin jatuh, aku mungkin terluka, tetapi aku tidak akan kehilangan arah.
Aku berjalan bukan untuk dunia semata,
melainkan untuk iman, untuk keteguhan hati, dan untuk keikhlasan yang terus aku jaga hingga akhir.

Tentang Mimpi
Di kesunyian malam, aku bermimpi—terasa begitu nyata.
Tahun 2005, tepatnya, aku didatangi seorang sosok tua renta. Ia memakai caping bambu, berpakaian serba hitam, wajahnya tenang namun menyimpan sesuatu yang sulit aku jelaskan. Ia berkata ingin memberiku kekayaan, mengabulkan segala permintaanku, menjadikanku orang berada.
Aku menolaknya dengan halus, tanpa niat menyinggung.
Aku mengatakan bahwa hidupku sudah cukup. Lalu aku terbangun.
Aku menuju dapur, memasak air untuk membuat kopi. Dalam keheningan itu, istriku terbangun dan menyapaku,
“Pah, kenapa bangun? Apa mimpi buruk?”
Aku menceritakan seluruh mimpiku.
Istriku sependapat denganku—bahwa hidup yang dicari bukanlah kekayaan, melainkan kebahagiaan. Selama kami hidup bersama, itu sudah lebih dari cukup.
Singkat waktu, keesokan harinya aku bermimpi lagi.
Sosok tua renta berpakaian hitam itu kembali datang. Kali ini ia memastikan, apakah aku menerima tawarannya untuk menjadi orang kaya. Ia mengatakan syaratnya hanya satu: menukar dengan seekor ayam jago.
Hatiku bergetar.
Dalam mimpi yang terasa nyata itu, aku berpikir—ayam jago itu adalah anak laki-laki yang kumiliki. Aku menolak kembali, tetap dengan cara yang halus. Aku mengatakan bahwa aku sudah cukup.
Rasa takut mulai menyelimutiku,
namun aku tidak berhenti membaca bacaan dari keyakinanku. Aku terus menguatkan hati hingga akhirnya aku terbangun.
Pagi harinya, aku kembali menceritakan mimpi yang sama kepada istriku.
Ia memandangku dengan tenang dan berkata,
“Pah, kita hidup di dunia ini tidaklah kekal. Istrimu tidak membutuhkan semua itu. Yang istrimu butuhkan hanyalah hidup bersama, dalam suka maupun duka.”
Dan sejak saat itu aku mengerti,
bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang ditawarkan dalam mimpi,
melainkan apa yang tetap aku jaga ketika aku terbangun.

Apa yang kutulis ini hanyalah karangan. Jika ada kesamaan dengan kejadian atau tokoh nyata, itu hanyalah kebetulan semata.”(swjn) 


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan